Saturday, April 11, 2009

Semangat Dari Sebuah Kampung (1)

Satu Minggu yang lalu Empat orang pemuda yang usianya masih sangat belia mengutarakan kepada saya bahwa mereka ingin berwirausaha, dengan semangat yang masih sangat polos tetapi dibarengi dengan keinginan kuat mereka memberanikan diri untuk memulai usaha jual makanan ringan. Usaha ini digawangi oleh empat anak yaitu: 1. Nurul, Adalah seorang anak berusia 20 tahun baru lulus STM 2 th lalu dengan kondisi dan jiwa yang masih muda, mempunyai historis yang tidak terlalu bagus suka mabok he3x ngefans sama Bim-bim nya SLANK, Kemauan bekerja yang kuat, selalu cari cara untuk memperbaiki diri dan mengubur masa lalunya yang kelam. 2. Donny, Adalah adik kandung saya berusia 21 th mempunyai fisik yang tidak terlalu bagus sehingga tidak bisa bekerja sesuai dengan ijasahnya yang hanya STM, mempunyai jiwawirausaha yang sangat kuat sejak kecil, Pernah mengikuti training on trining yang diselenggarakan Yayasan ALIT dan USAID dengan pelajaran Youth Entrepreneurship. Dalam Kontrol saya dan merupakan kewajiban saya untuk mengasahnya menjadi batu yang sangat berharga dan patut dibanggakan. Dia merupakan Salah satu penggagas ide ini. 3. Indra, Seorang anak yang masih bersetatus pelajar kelas 2 STM, Mempunyai keinginan kuat agak cenderung memiliki emosi yang tinggi, Apa adanya. Pernah mengelola bisnis kelinci yang akhirnya gagal, tapi sampai saat ini tidak ada kata menyerah baginya. 4. Hendrik, Seorang anak yang hanya mampu mengenyam sekolah SMP itupun hanya sampai kelas dua, mempunyaai historis mental yang kurang bagus pada masa kanak-kanaknya (Mabok dan perokok, Tawuran) tapi sekarang berubah drastis Shalatnya tidak pernah ketinggalan. Sedang dalam taraf belajar untuk menemukan jati diri karena harus membiayai hidupnya sendiri karena sudah ditinggal orang tuanya menghadap YME sejak kecil.
Keempat calon Wirausaha ini memulai usahanya dengan bermodal 400 Rb dan itupun modal pinjaman yang harus mereka kembalikan Rp. 5000 ,- Setiap harinya. Saya selalu pantau perkembangan mereka, Cara kerja, Semangat dan dari kesemua itu tidak ada yang perlu diragukan lagi. Semua semangat milik mereka.... Satu mingu tepat usaha ini berjalan, tetapi mereka tidak pernah menikmati hasil dari jualan tersebut, mereka tidak mendapat laba, Uang terus berputar-dan berputar, tetapi saya sangat salut karena mereka tidak pernah berhenti untuk berusaha dan semangatnya masih seperti saat pertama mereka memulai bisnis ini. Saya biarkan hal ini terjadi dengan tujuan supaya mereka belajar secara Real dan merasakan susahnya cari uang, kemudian tadi pagi mereka bertanya kepada saya kurangnya dimana kok selama jualan selalu habis tetapi untung gak dapat. Saya hanya tersenyum mendengar pertanyaan mereka. Lalu saya berkata "besok kita bertemu dan kita bahas dimana letak kesalahan yang mengakibatkan kalian tidak mendapat untung". Dibalik perkataan saya tersebut saya merasa bangga kepada mereka, terbesit di benak saya jika kebanyakan pemuda di indonesia berfikiran seperti mereka saya yakin angka penganguran akan bisa ditekan dan mengakibatkan kriminalitas berkurang. Kewajiban saya untuk berbagi ilmu, dan kita akan sama-sama belajar. Tulisan ini akan saya lanjutkan besok, kita akan belajar bersama dan meneriakkan kebebasan.
Salam Hangat, Dian Kurniawan

Thursday, April 9, 2009

KARMAKA CEO NISP

Ramah, rendah hati, dan bersahaja. Begitulah kesan setiap kali bertemu dengan Karmaka Surjaudaja yang tampak bugar pada 74 tahun usianya ini. Senyum dan sapaan selalu dia berikan kepada semua orang yang dijumpai pendiri bank OCBC NISP ini. Tak heran jika semua orang menghormati dan menyayanginya. Bukan semata karena jabatan Chairman Emeritus bank itu yang disandangnya, namun karena kepribadiannya yang lebih dari pantas untuk menerima penghormatan itu. Di balik sikap dan penampilan sederhananya, Karmaka Surjaudaja juga menyimpan kekuatan luar biasa yang membuatnya mampu menahkodai dan membangun sebuah bank yang mengalami berbagai cobaan berat di tahun 1960-an menjadi bank beraset lebih dari Rp34 triliun yang kini bernama Bank OCBC NISP. Di penghujung masa jabatannya, ia telah mempercayakan sepenuhnya tongkat estafet kepemimpinan Bank yang telah ia bina selama 45 tahun kepada kedua anaknya: Pramukti Surjaudaja sebagai Presiden Komisaris dan adiknya Parwati Surjaudaja sebagai Presiden Direktur. Estafet ini merupakan kepercayaan yang diberikan OCBC Bank kepada keluarga Surjaudaja. Kisah perjuangan dan ketegaran hidup

Karmaka Surjaudaja telah menginspirasi Dahlan Iskan, pendiri dan CEO Jawapos Group untuk menulis buku perjalanan hidup Karmaka Surjaudaja berjudul: "Tidak Ada yang Tidak Bisa". Membaca judulnya pembaca sudah dapat merasakan karakter kuat dalam diri Karmaka yang sangat gigih, pekerja keras, berpendirian kuat dan tidak kenal menyerah dalam setiap keadaan. Awal mula ketertarikan Dahlan menulis buku tersebut adalah ketika Karmaka bersama anaknya Pramukti Surjaudaja mengunjungi dirinya, yang ketika itu belum lama menjalani transplantasi hati; sebuah perjuangan yang pernah dilalui Karmaka beberapa tahun sebelumnya. Berawal dari perbincangan dua orang yang 'senasib' hingga perbincangan perjuangan-perjuangan hidup Karmaka lainnya; sungguh menggugah hati Dahlan Iskan untuk mengetahui lebih dalam tentang sosok Karmaka Surjaudaja. Akhirnya, Dahlan meminta izin kepada Karmaka untuk menulis buku tersebut karena baginya pengalaman hidup yang telah dilalui Karmaka dapat menjadi teladan dan motivasi bagi banyak orang.

Sosok Karmaka sendiri bagi Dahlan adalah pribadi yang sangat luar biasa dan dikaguminya. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP (d/h Bank NISP) menambahkan, "Nilai-nilai hidup dan karakter positif beliau tersebut senantiasa menginspirasi keluarga besar Bank OCBC NISP. Sebagai pendiri dan orang yang sangat berjasa bagi Bank OCBC NISP ini, Karmaka Surjaudaja yang telah diangkat menjadi Chairman Emeritus Bank OCBC NISP ini telah membentuk Corporate Culture Bank OCBC NISP yang kini memasuki usia 68 tahun," ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Rabu (11/3/2009). Perjalanan Karmaka Surjaudaja: 1954 - 1958 Mengajar sebagai guru olah raga

1958 - 1962 Wakil Pimpinan Perusahaan Dying, Finishing dan Printing NV Padasuka, Majalaya

1962 - 1963 Direktur Pertenunan & Perdagangan PT Dharma Kusuma, Cimahi

1963 - 1971 Direktur Operasional Bank NISP

1971 - 1997 Presiden Direktur Bank NISP

1997 - 2008 Presiden Komisaris Bank NISP 2008 - sekarang Chairman Emeritus dan Senior Advisor Bank OCBC NISP

Aktivitas Sosial antara lain:

- Pengurus berbagai organisasi sosial a.l Yayasan Hati Indonesia Jawa Barat, Yayasan Stroke Indonesia Jawa Barat, Asosiasi Pengusaha Taiwan, Dewan Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia, dll

-Orang tua asuh dari lebih dari 1.600 sarjana/pascasarjana di Indonesia

- Anggota Forum Kebudayaan Jawa Barat

Elang Gumilang (23) CEO PT Dwikarsa Semestaguna

Menjadi pengusaha sukses dan memimpin perusahaan dengan berpenghasilan besar tidak harus menunggu tua, namun bisa memulai dari umur yang sangat belia. Setidaknya ini bukanlah mimpi tapi kenyataan. Pasalnya sudah banyak cerita menggambarkan pengusaha muda sukses yang mengawali usahanya dari awal dan salah satunya Elang Gumilang (23) CEO PT Dwikarsa Semestaguna, pengusaha muda yang sukses di bidang properti. Kisah sukses pemuda seperti Elang di Indonesia masih langkah dan mungkin hanya seribu satu, karena walaupun masih berstatus mahasiswa dirinya sudah memimpin sebuah perusahaan dengan omset bermiliaran. Di saat mahasiswa lainnya disibukkan dengan pergulatan kuliah untuk menggapai masa depan yang lebih baik, Elang sudah mendapatkannya. Pemuda kelahiran Bogor 23 tahun lalu sudah mempunyai masa depan yang baik dengan sukses membuka lapangan kerja dan memperkerjakan ratusan orang berkat kegigihannya untuk berwirausaha yang sudah terasah sejak di bangku SMA. Menurut Elang, kesuksesan yang diraihnya saat ini bukanlah datang begitu saja. Tapi usaha dengan kerja keras, karena sesuatu tidak didapatkan dengan gratis. Pesan tersebut lah yang selalu diajarkan kedua orang tuanya. Semangat bisnisnya sudah terlihat sejak kecil dan bahkan naluri beriwarusahanya sangat tajam dalam melihat peluang usaha. Tak ayal dirinya sempat merasai bergai macam pekerjaan, mulai dari berdagang donat, menjadi tukang minyak goreng, jualan bolham hingga terakhir menjadi developer properti untuk pembangunan rumah sangat sederhana. Dikatakannya, bisnisnya di bidang properti diawali sebagai marketing perumahan. "Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, hanya saja mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen," ujarnya, dalam acara Radio Trijaya, bertajuk Talk to CEO, di Jakarta. Berkat pengalaman sebagai marketing perumahan yang dinilai cukup, telah membuatnya mempunyai pengetahuan di dunia properti. Sejak saat itu, diapun memberanikan diri ikut tender dalam properti. Kesuksesan yang didapatkannya waktu itu menang dalam tender pembangunan sekolah dasar di Jakarta Barat senilai Rp162 juta. Kemudian, ambisinya yang ingin terus maju membawanya membangun rumah sangat sederhanya bagi rakyat kecil. Pasalnya saat ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk kalangan berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang terjangkau untuk orang miskin masih jarang sekali pengembang yang peduli. "Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah," jelasnya, dalam acara Radio Trijaya, bertajuk Talk to CEO, di Jakarta. Dengan modal patungan Rp340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri. Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, mulai tipe 22/60 dan juga tipe 36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut ditawarkan hanya seharga Rp25 juta dan Rp37 juta per unitnya. "Jadi, hanya dengan DP Rp1,25 juta dan cicilan Rp90 ribu per bulan selama 15 tahun, mereka sudah bisa memiliki rumah," ungkapnya. Berbisnis tidak selamanya berjalan lurus dan pasti ada gelombangnya, terlebih sektor properti. Kekurangan modal dan memaksanya memeras otak mencari jalan keluar. Namun hal tersebut disiasatinya dengan mencari penyandang dana dengan sistem bagi hasil. "Kebetulan latar pendidikan saya dari ekonomi, sedikit-sedikit tahu jurusnya," katanya. Meskipun demikian, dia tetap mempertahankan komposisi kepemilikan sebesar 40 persen. Naiknya harga bahan baku membuatnya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dan termasuk dengan kondisi krisis ekonomi global saat ini. Bila dahulu Elang melepas satu unit rumah sederhana seharga Rp23 juta per unit, sekarang rencana anggaran biaya (RAB) mencapai Rp33 juta per unit. Dengan jumlah itu baru bisa menutupi biaya produksi sekaligus memberi keuntungan. Krisis ekonomi global saat ini disikapinya dengan optimisme. Pasalnya di industri properti Indonesia tidak terlalu bergantung pada asing, sehingga masih ada keyakinan pasar terus terbuka. "Industri properti Indonesia masih didominasi oleh pasar lokal. Orang asing belum boleh memiliki properti di Indonesia," tandasnya. Sebelumnya, rasa optimistis industri properti juga disampaikan Presdir PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib. Hiramsyah melihat krisis ini sebagai momentum bagi industri properti untuk menata diri agar lebih berkembang dan kompetitif. Krisis, akan menciptakan titik keseimbangan baru bagi pengembang. "Lihatlah, pengembang dengan fundamental kuat dan strategi yang tepat akan bertahan, dan bahkan makin eksis, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga global," paparnya. Namun, dia tidak menampik akan adanya sejumlah proyek yang tertunda akibat kesulitan likuiditas.

(Dimana Ada Bahaya Disitu Ada Peluang)

Tuesday, April 7, 2009

Mestakung

00.30 Wuih... g terasa kerja udah 17 jam sehari... gilee... Masih dapet marah dari Bos juga, Tantangan Bulan ini sangat besar, aq teringat kata2 china klo g salah "Mestakung". Mestakung adalah kejadian ajaib yang bisa kita lakukan pada saat kita terdesak... Saya teringat kejadian lucu dengan seorang teman kuliah seangkatan. Kejadian ini terjadi pada waktu saya masih bersetatus mahasiswa sekitar 6 tahun yang lalu. Ketika itu Kita sedang jaga keliling pada waktu ospek di Cuban Talun malang, kita berjalan menyusuri parit-parit masuk kampung yang sanggat-sangat sepi maklum dan jam 12 malam dan udara sangat dingin, orang cerdas pasti bilang "Minum Tolak angin" Ha3x , tidak begitu ya mereka lebih pilih untuk tidur. Ketika kita melewati sebuah rumah penduduk saya melihat sebuah benda yang bergerak, Dalam hati takut bercampur rasa ingin tahu.. "Apaan Tuh" Kemudian dengan sengaja saya arahkan lampu senter ke benda yang ber gerak tadi. Begitu lampu sorot senter mengenai sosok yang bergerak tadi kontan saya terperanjat dan kaget setengah mati.... ternyata seekor Anjing yang menggonggong siap menerkam kami... Dengan tanpa aba-aba kami langsung mengambil langkah seribu.... Kebetulan saya langsung ambil alternatif belok ke kiri dan teman saya lurus dan lari sangat kencang. Untuk sementara saya aman dan sang anjing yang besarnya dua kali badan saya mengejar teman saya... Saya hanya bisa melihat teman yang lari tunggang langgang ketidak beruntungan jatuh pada teman saya lagi, ternyata di depan adalah gang buntu dan ada dinding kayu setinggi 2.5 meter. Dalam hati berkata aduh mampus kamu kena rabies digigit anjing.... Ternyata disinilah letak keajaiban itu, entah dapat power dari mana? ternyata dengan mudah teman saya meloncat di atas dinding itu.. Tidak Rasional... Inilah yang disebut "mestakung" saat kita sedang terdesak maka otak akan berfikir dengan cepat dan menstimulus otot-otot tubuh untuk cepat bergerak dan melakukan apapun untuk menghindar dari bahaya tersebut. Kekuatan yang tersembunyi akan muncul dalam diri kita saat kita terdesak.... Poin ini yang ingin saya praktekkan, Dengan semakin besar target yang saya dapat, semakin sempit waktu saya, semakin keras kerja saya... dan yang palin penting saya akan bisa memunculkan kekuatan tersembunyi dalam diri saya... Salam Hangat Dian Kurniawan