Saturday, April 11, 2009
Semangat Dari Sebuah Kampung (1)
Thursday, April 9, 2009
KARMAKA CEO NISP
Ramah, rendah hati, dan bersahaja. Begitulah kesan setiap kali bertemu dengan Karmaka Surjaudaja yang tampak bugar pada 74 tahun usianya ini. Senyum dan sapaan selalu dia berikan kepada semua orang yang dijumpai pendiri bank OCBC NISP ini. Tak heran jika semua orang menghormati dan menyayanginya. Bukan semata karena jabatan Chairman Emeritus bank itu yang disandangnya, namun karena kepribadiannya yang lebih dari pantas untuk menerima penghormatan itu. Di balik sikap dan penampilan sederhananya, Karmaka Surjaudaja juga menyimpan kekuatan luar biasa yang membuatnya mampu menahkodai dan membangun sebuah bank yang mengalami berbagai cobaan berat di tahun 1960-an menjadi bank beraset lebih dari Rp34 triliun yang kini bernama Bank OCBC NISP. Di penghujung masa jabatannya, ia telah mempercayakan sepenuhnya tongkat estafet kepemimpinan Bank yang telah ia bina selama 45 tahun kepada kedua anaknya: Pramukti Surjaudaja sebagai Presiden Komisaris dan adiknya Parwati Surjaudaja sebagai Presiden Direktur. Estafet ini merupakan kepercayaan yang diberikan OCBC Bank kepada keluarga Surjaudaja. Kisah perjuangan dan ketegaran hidup
Karmaka Surjaudaja telah menginspirasi Dahlan Iskan, pendiri dan CEO Jawapos Group untuk menulis buku perjalanan hidup Karmaka Surjaudaja berjudul: "Tidak Ada yang Tidak Bisa". Membaca judulnya pembaca sudah dapat merasakan karakter kuat dalam diri Karmaka yang sangat gigih, pekerja keras, berpendirian kuat dan tidak kenal menyerah dalam setiap keadaan. Awal mula ketertarikan Dahlan menulis buku tersebut adalah ketika Karmaka bersama anaknya Pramukti Surjaudaja mengunjungi dirinya, yang ketika itu belum lama menjalani transplantasi hati; sebuah perjuangan yang pernah dilalui Karmaka beberapa tahun sebelumnya. Berawal dari perbincangan dua orang yang 'senasib' hingga perbincangan perjuangan-perjuangan hidup Karmaka lainnya; sungguh menggugah hati Dahlan Iskan untuk mengetahui lebih dalam tentang sosok Karmaka Surjaudaja. Akhirnya, Dahlan meminta izin kepada Karmaka untuk menulis buku tersebut karena baginya pengalaman hidup yang telah dilalui Karmaka dapat menjadi teladan dan motivasi bagi banyak orang.
Sosok Karmaka sendiri bagi Dahlan adalah pribadi yang sangat luar biasa dan dikaguminya. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP (d/h Bank NISP) menambahkan, "Nilai-nilai hidup dan karakter positif beliau tersebut senantiasa menginspirasi keluarga besar Bank OCBC NISP. Sebagai pendiri dan orang yang sangat berjasa bagi Bank OCBC NISP ini, Karmaka Surjaudaja yang telah diangkat menjadi Chairman Emeritus Bank OCBC NISP ini telah membentuk Corporate Culture Bank OCBC NISP yang kini memasuki usia 68 tahun," ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Rabu (11/3/2009). Perjalanan Karmaka Surjaudaja: 1954 - 1958 Mengajar sebagai guru olah raga
1958 - 1962 Wakil Pimpinan Perusahaan Dying, Finishing dan Printing NV Padasuka, Majalaya
1962 - 1963 Direktur Pertenunan & Perdagangan PT Dharma Kusuma, Cimahi
1963 - 1971 Direktur Operasional Bank NISP
1971 - 1997 Presiden Direktur Bank NISP
1997 - 2008 Presiden Komisaris Bank NISP 2008 - sekarang Chairman Emeritus dan Senior Advisor Bank OCBC NISP
Aktivitas Sosial antara lain:
- Pengurus berbagai organisasi sosial a.l Yayasan Hati Indonesia Jawa Barat, Yayasan Stroke Indonesia Jawa Barat, Asosiasi Pengusaha Taiwan, Dewan Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia, dll
-Orang tua asuh dari lebih dari 1.600 sarjana/pascasarjana di Indonesia
- Anggota Forum Kebudayaan Jawa Barat
Elang Gumilang (23) CEO PT Dwikarsa Semestaguna
Menjadi pengusaha sukses dan memimpin perusahaan dengan berpenghasilan besar tidak harus menunggu tua, namun bisa memulai dari umur yang sangat belia. Setidaknya ini bukanlah mimpi tapi kenyataan. Pasalnya sudah banyak cerita menggambarkan pengusaha muda sukses yang mengawali usahanya dari awal dan salah satunya Elang Gumilang (23) CEO PT Dwikarsa Semestaguna, pengusaha muda yang sukses di bidang properti. Kisah sukses pemuda seperti Elang di Indonesia masih langkah dan mungkin hanya seribu satu, karena walaupun masih berstatus mahasiswa dirinya sudah memimpin sebuah perusahaan dengan omset bermiliaran. Di saat mahasiswa lainnya disibukkan dengan pergulatan kuliah untuk menggapai masa depan yang lebih baik, Elang sudah mendapatkannya. Pemuda kelahiran Bogor 23 tahun lalu sudah mempunyai masa depan yang baik dengan sukses membuka lapangan kerja dan memperkerjakan ratusan orang berkat kegigihannya untuk berwirausaha yang sudah terasah sejak di bangku SMA. Menurut Elang, kesuksesan yang diraihnya saat ini bukanlah datang begitu saja. Tapi usaha dengan kerja keras, karena sesuatu tidak didapatkan dengan gratis. Pesan tersebut lah yang selalu diajarkan kedua orang tuanya. Semangat bisnisnya sudah terlihat sejak kecil dan bahkan naluri beriwarusahanya sangat tajam dalam melihat peluang usaha. Tak ayal dirinya sempat merasai bergai macam pekerjaan, mulai dari berdagang donat, menjadi tukang minyak goreng, jualan bolham hingga terakhir menjadi developer properti untuk pembangunan rumah sangat sederhana. Dikatakannya, bisnisnya di bidang properti diawali sebagai marketing perumahan. "Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, hanya saja mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen," ujarnya, dalam acara Radio Trijaya, bertajuk Talk to CEO, di Jakarta. Berkat pengalaman sebagai marketing perumahan yang dinilai cukup, telah membuatnya mempunyai pengetahuan di dunia properti. Sejak saat itu, diapun memberanikan diri ikut tender dalam properti. Kesuksesan yang didapatkannya waktu itu menang dalam tender pembangunan sekolah dasar di Jakarta Barat senilai Rp162 juta. Kemudian, ambisinya yang ingin terus maju membawanya membangun rumah sangat sederhanya bagi rakyat kecil. Pasalnya saat ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk kalangan berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang terjangkau untuk orang miskin masih jarang sekali pengembang yang peduli. "Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah," jelasnya, dalam acara Radio Trijaya, bertajuk Talk to CEO, di Jakarta. Dengan modal patungan Rp340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri. Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, mulai tipe 22/60 dan juga tipe 36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut ditawarkan hanya seharga Rp25 juta dan Rp37 juta per unitnya. "Jadi, hanya dengan DP Rp1,25 juta dan cicilan Rp90 ribu per bulan selama 15 tahun, mereka sudah bisa memiliki rumah," ungkapnya. Berbisnis tidak selamanya berjalan lurus dan pasti ada gelombangnya, terlebih sektor properti. Kekurangan modal dan memaksanya memeras otak mencari jalan keluar. Namun hal tersebut disiasatinya dengan mencari penyandang dana dengan sistem bagi hasil. "Kebetulan latar pendidikan saya dari ekonomi, sedikit-sedikit tahu jurusnya," katanya. Meskipun demikian, dia tetap mempertahankan komposisi kepemilikan sebesar 40 persen. Naiknya harga bahan baku membuatnya perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dan termasuk dengan kondisi krisis ekonomi global saat ini. Bila dahulu Elang melepas satu unit rumah sederhana seharga Rp23 juta per unit, sekarang rencana anggaran biaya (RAB) mencapai Rp33 juta per unit. Dengan jumlah itu baru bisa menutupi biaya produksi sekaligus memberi keuntungan. Krisis ekonomi global saat ini disikapinya dengan optimisme. Pasalnya di industri properti Indonesia tidak terlalu bergantung pada asing, sehingga masih ada keyakinan pasar terus terbuka. "Industri properti Indonesia masih didominasi oleh pasar lokal. Orang asing belum boleh memiliki properti di Indonesia," tandasnya. Sebelumnya, rasa optimistis industri properti juga disampaikan Presdir PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib. Hiramsyah melihat krisis ini sebagai momentum bagi industri properti untuk menata diri agar lebih berkembang dan kompetitif. Krisis, akan menciptakan titik keseimbangan baru bagi pengembang. "Lihatlah, pengembang dengan fundamental kuat dan strategi yang tepat akan bertahan, dan bahkan makin eksis, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga global," paparnya. Namun, dia tidak menampik akan adanya sejumlah proyek yang tertunda akibat kesulitan likuiditas.
(Dimana Ada Bahaya Disitu Ada Peluang)Tuesday, April 7, 2009
Mestakung
Saturday, April 4, 2009
Malas bangun pagi
Tadi pagi saya merasa malas sekali untuk bangun, Otak negatifku membayangkan kepenatan dan beban berat kerjaku hari ini, ada jatuh tempo perpanjangan kredit hari ini sedangkan debitur belum menyerahkan data untuk perpanjangan jika ada kesalan sedikit Huh... G terbayang apa yang akan saya dapat dari bos "Mungkin Koerban Telinga", Kedua saya harus melakukan kunjungan klien memberi penjelasan ke nasabah yang kemarin marah-marah gara-gara bunga kredit yang gak bisa turun otak negatifku "Pasti Dimarahi", Ketiga saya harus mempersiapkan mental untuk mengunjungi nasabah yang sempat marah-marah juga dia seorang pengusaha besar yang beromzet 10 M perbulan, He2x Anda pasti tau karakter orang yang mempunyai duit segitu, Keempat Saya harus menerima dan menjelaskan kepada atasan tentang kesalahan yang diperbuat senior saya yang saya gantikan posisinya, dan otak negatif berkata "Mampus Kamu", Kelima saya harus datang ke PT. Sindopex untuk mengambil data dan segera mempersiapkan proposal pengajuan kredit. Terbayang ketakutan, Capek, Tidak mungkin.... Benar-benar malas untuk memulai aktifitas. otak negatif kita selalu menstimulus dan menghalangi kita untuk maju dan sukses meraih impian.
Tapi tiba-tiba otak positifku melakukan perlawanan hei... ingat bahwa "hidup itu bergerak" jika km berhenti disini apa yang akan kamu dapat, jangan hiraukan si "negatif" Bangun dan hadapi sebagai seorang yang jantan, Lakukan step by step dan yakinlah semua bisa kamu lakukan. kamu akan semakin kuat jika telah melewati masalah ini.. Go ahead... wake Up.. n Fight....
Anda Tau ternyata semua ketakutan yang saya bayangkan hari ini, kengerian yang saya impikan...... Semua saya lewati dengan tersenyum :)
Karena saat itu saya berusaha mengeleminasi belief negatif saya dan mengganti dengan belief positif dan saya yakin hari ini saya pasti berhasil.... Saya siap untuk tantangan selanjutnya...


